Senin, 01 Maret 2021

Tak Hanya Dibidang Militer, Teddy Rusdy Juga Pernah Dapat Tugas Sosial Lho!

Google.com

Karena keberhasilan Operasi Mandala, kesuksesan dan karirnya Jenderal Soeharto terus menanjak mulus. Tak hanya Jenderal Soeharto saja, ternyata Teddy Rusdy pun terciprat kesuksesannya. Pangkat pun menaik, dari Letnan Muda Udara I, kini meningkat menjadi Letnan Udara II.

Hebatnya lagi, Teddy Rusdy menerima penghargaan berupa Bintang Sakti, biasanya penghargaan ini adalah tanda kehormatan yang diberikan kepada prajurit TNi dan warga sipil yang menunjukan sifat keberanian dan kepahlawanan.

Pada usia 25 tahun, Teddy Rusdy menermukan kebenaran dari pernyataan Mustafa Akamal Ataturk mengenai masa depan yang memang terletak di langit. Menanggapi hal tersebut, Teddy Rusdy bergegas untuk memperdalam pengetahuan dan meluaskan jaringan untuk menghabiskan masa mudanya.

Tak berhenti disitu, Teddy Rusdy juga langsung meningkatkan ketangkasan dalam bekerja, dan tetap belajar untuk tidak berputus asa. Tak aneh jika karirnya terus menanjak tinggi, pasalnya ia memiliki kecerdasan, simpatik dan mudah akrab dengan siapa aja.

Teddy juga dikabarkan pernah mendapatkan tugas social, selain di bidang militer. Ketika Teddy Rusdy ditugaskan menjadi Komandan Pangkalan Udara (Lanud) di Rembiga, Mataram, Lombok Barat. Teddy Rusdy pun pernah dilantik untuk menjadi Ketua DPD Golkar Lombok Barat pada tahun 1972.

Dalam waktu satu tahun, karir Teddy Rusdy mengalami peningkatan dan diberikan amanah untuk menjadi Sekretaris DPD Golkar Provinsi NTB.

 

Sumber : Rmol.id

Teddy Rusdy Belajar Terbang Cross-Country Hanya Menggunakan Insting dan Analisis

Google.com

Teddy Rusdy lulus pada 1961 dan meraih pangkat Letnan Muda Udara 1. Mulai dari sanalah karir Teddy Rusdy terus merambat naik, meski kini kondisinya serba terbatas. Diapun memulai dengan gemilang ketika ia terlibat dalam Operasi Trikora di Maluku saat usianya masih 22 tahun.

Karena menjadi satu-satunya yang terbaik di bidang navigasi dan prosedur operasi radio-silent, Teddy Rusdy dilibatkan kedalamnya. Teddy juga belajar terbang cross-country sejauh 1.500 mil tanpa peta saat ia masih menempuh pendidikan di India.

Hebatnya, ia melakukan penerbangan itu hanya bermodalkan paduannya kepada posisi bulan dan bintang. Teddy Rusdy juga menggunakan insting, analisis, dan juga hanya berpatokan dengan tatapan matanya.

Melihat dari potensi yang dimiliki oleh Teddy Rusdy, Mayor Jenderal Soeharto langsung menarik Teddy Rusdy untuk berangkat ke Jakarta dan langsung bergabung dalam Operasi Mandala. Seperti yang dikabarkan, Teddy Rusdy adalah orang pertama Indonesia yang menerbangkan pesawat pembom TU-16/KS, buatan Uni Soviet pada Operasi Mandala.

Pada saat itu, di dunia ini ternyata hanya ada dua Negara yang memiliki pesawat pembom TU-16/KS di luar Uni Soviet, yakni Mesir di bawah kepimimpinan Presiden Gamal Abdul Nasser dan juga Indonesia di bawah Presiden Soekarno.

 

Sumber : Rmol.id

Minggu, 28 Februari 2021

Berkat Buku Yang Suka Ia Baca, Teddy Rusdy Dapat Lulus Test Penerbangan Dengan Mudah

Google.com

Dahulu Teddy Rusdy adalah remaja yang sangat mencintai baca buku, ia pun melumat banyak buku, seperti membaca novel petualangan dan juga beberapa biografi para tokoh. Mau fiksi ataupun nyata, Teddy Rusdy terus membaca dan didorong imajinasi tokoh-tokoh dari buku yang dia baca.

Tak disangka, sejak dulu Teddy Rusdy Ingin menjadi seorang jagoan yang gagah berani, perkasa dan juga cerdas. Teddy Rusdy pun terinspirasi oleh Tom Sawyer, Robinson Crusoe, Winnetou, bahkan sampai tokoh nasional pun seperti Bung Tomo dan juga Mustafa Kamal Ataturk.

Untuk mewujudkan impiannya tersebut, Teddy Rusdy langsung bergabung dengan Angkatan Udara dan memilih sebagai calon navigator. Tak hanya itu saja, berkat akumulasi pengetahuan yang dia dapat dari buku-buku yang pernai dia baca, Teddy Rusdy akhirnya dapat lulus dengan mudah.

Hebatnya, setalah itu Teddy Rusdy mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan pengetahuannya dan kemampuan teknis dalam penerbangannya di India, tepatnya di di Air Force Flying College (India). Teddy Rusdy pun lulus pada 1961 dengan pangkat Letnan Muda Udara 1.

 

Sumber : rmol.id

Kakek Teddy Rusdy, Yai Zis Rela Dibuang Demi Mempertahankan Keyakinan Kemerdekaan Indonesia

Google.com

Berdasarkan kamus perjuangan Indonesia, mereka yan dihormati dan disegani pasti sudah menjadi seseorang yang pernah dibuang ke Digoel. Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Sayuti Melik, adalah di antara nama pejuang yang pernah dikirim ke sana.

Dengan cara dibuang seperti itu adalah pilihan dari mereka yang memang mempertahankan keyakinan tentang kemerdekaan Indonesia. Mereka memilih untuk dibuang daripada harus berkompromi, maka dari itu mereka menjadi teladan dalam aspek perjuangan kemerdekaan.

Kakek Teddy Rusdy, Yai Zis adalah seseorang yang termasuk dalam kelompok ini, ia rela dibuang demi mempertahankan keyakinan tentang kemerdekaan Indonesia. Darah pejuang yang terus mengalir dalam tubuh Teddy adalah turunan dari sang kakek Yai Zis.

Tak perlu dipungkiri, Teddy Rusdy pun siap menghabiskan sisah hidupnya untuk tetap mengabdi dan memegang teguh kepada negerinya yakni tanah air yang dia cintai sepenuh hati. Kakeknya adalah pejuang negeri ini, Teddy Rusdy sebagai cucu tak akan merusak perjuangan sang kakek.

Dan memang, yang ia lakukan dalam jalan hidupnya sekarang mengantarkannya untuk meneruskan perjuangan sang kakek Yai Zis dalam bidang lain yakni Militer dan Intelijen.

 

Sumber : rmol.id

Menurut Sejarah, Mereka Yang Dibuang Ke Digoel Adalah Orang Yang Dihormati dan Disegani

Google.com

Pada 11 Mei 1939, Teddy Rusdy putra dari Hayuni Mathamin dan Nyi Mas Rodiah lahir di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Tak disangka, Teddy kecil sudah mengalami banyak kesusahan dan juga kesulitan karena masih negeri ini masih dibawah kekuasaan Belanda, Jepang, sampai akhirnya Indonesia bisa merdeka pada 17 Agustus 1945.

Tetapi, ada hal yang paling diingat dan paling melekat di memori Teddy Rusdy kecil. Yakni ketika sang kakek dari pihak ibu, dengan nama Haji Muhammad Zis berhasil pulang dari pengasingannya di Boven Digoel.

Kakek ini lebih dikenal dengan sebutan Yai Zis, Yai Zis sendiri adalah seorang aktivis Syarikat Islam di wilayah Banten dan beliau dikirimkan ke Digoel, Papua pada tahun 1929. Setelah 20 tahun mendatang akhirnya sang kakek kembali dan pada saat itu Teddy Rusdy masih berusia 10 tahun.

“Peristiwa itu saya ingat secara kental, sekaligus peristiwa itu menanamkan dan membentuk pribadi cinta tanah air pada diri saya,” kata Teddy.

Berdasarkan kamus perjuangan Indonesia, mereka yan dihormati dan disegani pasti sudah menjadi seseorang yang pernah dibuang ke Digoel. Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Sayuti Melik, adalah di antara nama pejuang yang pernah dikirim ke sana.

 

Sumber : rmol.id

Meski Sudah Populer, L.B. Moerdani Tak Pernah Lupa Dengan Teddy Rusdy Staf Paling Setia

Google.com

Setelah L.B. Moerdani mengamati kondisi Pesawat Woyla dari pembajakan yang terjadi, Jenderal L.B. Moerdani meminta kertas dari Teddy Rusdy untuk menulis pesan, “Dear Pak Yoga, from now on, the show is mine! LBM.”.

Dengan jiwa kesetiaannya, Teddy Rusdy langsung berlari untuk menyampaikan kertas itu kepada Jenderal Yoga selaku Kepala Badan Koordinasi Intelijen, yang masih berada di Pusat Pengenadalian Krisis, lokasinya sekitar 400 meter dari titik lokasi L.B. Moerdani.

Setelah berhasil mendapatkan balasan dari Jenderal Yoga, Teddy Rusdy langsung bergegas untuk kembali menghampiri atasannya. L.B. Moerdani pun segera bergerak begitu melihat Teddy Rusdy membawa balasan dari Yoga, “Ok Ben. Sukses”.

Ternyata akhir kisahnya adalah dengan senang gembira Jenderal Yoga memberikan umpatan kepada L.B Moerdani, “Diancuk. Ning endi kowe? (Sialan, kamu di mana?)”. Jenderal L.B. Moerdani pun menjawabnya, “Di pesawat, Pak. Sudah selesai semua. Beres,” kata Benny lewat mik yang dipancarkan dari kokpit pesawat Woyla.

Siapakah dibalik itu semua? Ternyata Teddy Rusdy lah yang memastikan kelistrikan dalam pesawat itu berfungsi atau tidak ketika atasannya L.B. Moerdani hendak mengontak Yoga.

Dunia kemudian mencatat keberhasilan operasi ini dan disamakan dengan operasi militer Israel dan Jerman yang juga berhasil menyelamatkan kasus serupa. The Asian Wall Street Journal mencatat, “From hijack to the last gunshot, the entire operation lasted about 60 hours. It required a high degree of organisation and planning. It also required courage, efficiency and discipline.”

Keberhasilan Operasi Woyla ini mengerek kepopuleran untuk L.B. Moerdani. Tetapi, dia tidak lupa untuk membawa serta stafnya yang paling setia untuk ikut naik yakni Teddy Rusdy.

 

Sumber : rmol.id

Berhasil Dalam Operasi Pesawat Woyla, L.B. Moerdani Berikan Pesan Kepada Jenderal Yoga

 

Google.com

Saat bertemu dengan Jenderal L.B. Moerdani di Halim Perdanakusuma, Teddy Rusdy langsung melaporkan kalau dirinya sudah menyiapkan pesawat yang cukup mirip dengan Pesawat DC-9 Garuda, yang juga dikenal sebagai Pesawat Woyla.

Biasanya Pesawat Woyla digunakan sebagai latihan tim penyelamat. Tak hanya itu, Teddy Rusdy juga meminta kepada pihak pemerintah Malaysia untuk melarang pesawat Woyla keluar dari wilayah Malaysia. Namun sayangnya Malaysia tidak bisa menahannya.

Tak disangka, Pesawat Woyla sudah sampai dan mendarat di wilayah Bangkok, Thailand. Tanpa sepengetauan L.B. Moerdani, ternyata Teddy Rusdy juga telah meyusun informasi dari berbagai sumber untuk menjadi dasar keputusan bagi L.B. Moerdani.

Mulai dari logistic sampai menyiapkan strategi sudah Teddy Rusdy untuk menunjang kebutuhan L.B. Moerdani . Bahkan, saat operasi militer pembebasan Pesawat Woyla itu sedang berlangsung dan juga mengharuskan kontak senjata, Teddy Rusdy tetap setia menemani sang atasan.

Operasi militer itu terjadi pada 31 Maret 1981 bertempat di wilayah Bangkok, Thailand. Setelah L.B. Moerdani mengamati kondisi Pesawat Woyla, Jenderal L.B. Moerdani meminta kertas dari Teddy Rusdy untuk menulis pesan, “Dear Pak Yoga, from now on, the show is mine! LBM.”.

 

Sumber : rmol.id