Rabu, 03 Maret 2021

Niat Yang Indah, Teddy Rusdy dan Sang Istri Berniat Untuk Membangun Pesantren

Google.com

Tak semudah itu untuk membuang orang yang sangat berjasa untuk Negara, jadi Jenderal Tri Sutrisno membangkang perintah dari Presiden Soeharto dan tetap berjuang untuk mempertahankan Teddy Rusdy.

Hingga akhirnya pada tanggal 17 Februari 1992, Teddy Rusdy memutuskan untuk mengajukan pensiun dini dan rela melepaskan Jabatan Organik/ Fungsional Hankam/ ABRI/ Golongan Karya ABRI. Walaupun sudah pensiun, hubungan baik keluarga Teddy Rusdy dan keluarga Jenderal Tri Sutrisno tetap berjalan dengan baik hingga detik ini.

Teddy Rusdy membuka kisah yang baru saat ulang tahun yang ke-75, Teddy Rusdy mengikrarkan niatnya untuk mewakafkan sebidang tanah miliknya dengan luas sekitar 3 hektar di Cijeruk, Bogor, Jawa Barat untuk dijadikan sebuah pesantren.

Teddy Rusdy mendukung sang istri Ibu Sri yang berniat untuk mendirikan pesantren dengan basic tetap menjaga sekaligus memelihara kearifan local dalah bagian dari ikhtiar Teddy Rusdy. Hal tersebut dilakukan untuk ikut sera dalam membentengi generasi muda muslim Indonesia.

Namun hal yang sudah diniatkan tersebut belum terwujud sampai dengan beliau berpulang kerahmatullah pada hari kamus malam jumat, 31 Mei 2018 yang juga bertepatan dengan malam ke-17 bulan Ramadhan.

 

Sumber : Islami.co

Sudah Pasrah Dibuang, Jenderal Tri Sutrisno Tetap Pertahankan Teddy Rusdy

Google.com

Selama Teddy Rusdy menjalankan tugas sebagai pelapis pengamanan bersama dengan pasukannya, ia sempat mendapatkan cerita yang lucu yakni tingkah para Bintara dan Perwira PASPAMPRES yang mengusirnya tanpa mengetahui hal sebenarnya.

Mengingat hal tersebut Teddy Rusdy tersenyum sendiri. Tapi tau kah kamu hal menyedihkan yang hampir saja dirasakan Teddy Rusdy? Ternyata Presiden Soeharto sempat meminta Jenderal Tri Sutrisno untuk mengganti Teddy Rusdy.

Namun, untungnya Panglima ABRI Jenderal Tri Sutrisno itu menolak permintaan sang presiden. Hal tersebut merupakan suatu kebanggan untuk Teddy Rusdy dan keluarga karena bisa memberikan kepercayaan kepada Jenderal Tri Sutrisno.

Padahal sebelumnya Teddy Rusdy sudah pasrah dengan keputusan Panglima ABRI dan siap dibuang setelah L.B. Moerdani digeser dari Pangab pada tahun 1988 dan sempat dikabarkan adanya pembersihan besar-besaran untuk orang-orang yang di kepalai oleh L.B. Moerdani.

Tak semudah itu untuk membuang orang yang sangat berjasa untuk Negara, jadi Jenderal Tri Sutrisno membangkang dan tetap mempertahankan Teddy Rusdy.

 

Sumber : Islami.co

Sempat Tertinggal Pesawat, Untung Saja Teddy Rusdy Bertemu Dengan Direktur Utama Garuda Saat Itu

Google.com

Pasukan khusus Teddy Rusdy memang tak diakui sebagai anggota pasukan resmi dari Presiden Soeharto dan keluarga, Teddy Rusdy bersama dengan pasukannya tak memiliki akses apa pun untuk masuk ke tempat-tempat penting (VVIP) yang disinggahi oleh Presiden Soeharto.

Karena Teddy Rusdy tak memiliki akses masuk Arab Saudi, apalagi dengan membawa senjata tanpa ijin membuat pasukan khsusnya bergerak nyaris sama dengan gerakan para teroris yakni diam-diam. Maka dari itu, Teddy membuat dirinya dan pasukannya pun berbeda.

Caranya dengan sengaja memelihara rambut, kumis, dan jambang yang panjang sebagai upaya penyamaran dari observasi Presiden Soeharto dan keluarganya. Saat hari terakhir, Presiden menaiki pesawat Garuda untuk kembali ke tanah air, Pasukan yang sudah disiapkan Teddy Rusdy tertinggal dari rombongan inti.

Untung saja Teddy Rusdy bertemu dengan Direktur Utama Garuda Indonesia yakni Pak Suparno pada masa itu. Direktur Utama Garuda itu terkejut melihat Teddy Rusdy bersama pasukannya sedang berupaya untuk menyelinap masuk ke dalam pesawat.

Dengan sengaja, Pak Parno mengulur waktu keberangkatan pesawat Presiden Soeharto agar Teddy Rusdy dan pasukannya dapat masuk kedalam pesawat. Pasukan khusus yang disiapkan oleh Teddy Rusdy ini melakukan tugas pelapis pengamanan dengan sangat baik.

 

Sumber : Islami.co

Tak Miliki Izin Masuk, Teddy Rusdy Bersama Pasukannya Bergerak Perlahan Untuk Menjaga Presiden Soeharto

Google.com

Teddy Rusdy memutuskan untuk tidak mendaftarkan pasukan khususnya dalam rombongan resmi. Ia memiliki ide selama menjadi pelapis pengamanan agar tidak ketahuan diharuskan untuk menyamar. “Jadi kami menyamar dari musuh dan menyamar dari objek yang diamankan ya,” kata Pak Teddy Rusdy.

Teddy Rusdy menyiapkan 11 orang anggota untuk menjadi anggota Pasukan Anti Teror yang sudah terbentuk sejak 1981 atau sering disebut dengan Detasemen 81, hal itu juga yang menjadikan Teddy Rusdy sebagai pelapis pengawal dan pengaman Presiden Seoharto dan keluarganya.

Karena yang harus dihadapi adalah sasaran ancaman dari PPRII, maka dari itu Perwira Menengah yang telah diberangkat tugaskan di KBRI Teheran diperintahkan untuk bergabung dan membantu dalam pasukan yang sudah disiapkan oleh Teddy Rusdy.

Walaupun tak diakui sebagai anggota pasukan resmi dari Presiden Soeharto dan keluarga, Teddy Rusdy bersama dengan pasukannya tak memiliki akses apa pun untuk masuk ke tempat-tempat penting (VVIP) yang disinggahi oleh Presiden Soeharto.

Karena Teddy Rusdy tak memiliki akses masuk Arab Saudi, apalagi dengan membawa senjata tanpa ijin membuat pasukan khsusnya bergerak nyaris sama dengan gerakan para teroris yakni diam-diam. Maka dari itu, Teddy membuat dirinya dan pasukannya pun berbeda.

Caranya dengan sengaja memelihara rambut, kumis, dan jambang yang panjang sebagai upaya penyamaran dari observasi Presiden Soeharto dan keluarganya


Sumber : Islami.co

Selasa, 02 Maret 2021

Teddy Rusdy Siapkan Pelapis Pengamanan Dengan Menyamar Untuk Presiden Soeharto Agar Lebih Aman

Google.com

 JSM adalah kelompok muslin Wahabi radikal yang ikut dibawa dan dimanfaatkan oleh PPRII untuk menguasai Mekkah. Hal tersebut dilakukan agar ia dapatt memberikan pengamanan khusus pada kujungan Presiden dan keluarga.

Mendengar hal itu, Teddy Rusdy langsung diperintahkan untuk segera mempersiapkan dan membawa Tim Khusus pelapis dan membantu pengamanan Presiden Soeharto dan keluarganya selama menunaikan ibadah haji.

Dalam kesempatan tersebut, Teddy Rusdy langsung membuka pembicaraan mengenai kekakuan hubungan Teddy dengan keluarga Presiden yang bisa berakibat kontra produktif jika tidak segera di selesaikan kepada Jenderal Tri Sutrisno.

Jenderal Tri Sutrisno mendengar cerita dari Teddy Rusdy langsung memahami hal tersebut. Namun karena adanya pelapis pengamanan presiden adalah sebuah keharusan karena untuk menjaga keselamatan presiden dan ibu Negara agar lebih optimal dan ketat.

Teddy Rusdy akhirnya memutuskan untuk tidak mendaftarkan pasukan khususnya dalam rombongan resmi. Ia memiliki ide selama menjadi pelapis pengamanan agar tidak ketahuan diharuskan untuk menyamar. “Jadi kami menyamar dari musuh dan menyamar dari objek yang diamankan ya,” kata Pak Teddy Rusdy.

 

Sumber : Islami.co

Teddy Rusdy Siapkan Pengamanan Ekstra Selagi Presiden Soeharto Ibadah Haji

Google.com

Saat Kepala Direktorat Pengamanan di BAIS masih diduduki oleh Brigjen A.M. Hendropriyono, maka tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Sejak menjabat sebagai kapten di RPKAD, hubungan antara A.M. Hendropriyono dengan Kolonel Teddy Rusdy di Sintel Hankam/Kopkamtib semakin akrab.

Ternyata keduanya dikabarkan sama-sama orang betawi, dan juga dibesarkan dan sering main bersama di wilayah Tanah Abang, Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Namun saat itu, Panglime ABRi Jenderal Tri Sutrisno merasa kalau ada yang perlu diperkuat.

Yakni memperkuat tim BAIS ABRI yang berada dibawah pimpinan Mayjen Arie Sadewo dan Brigjen A.M. Hendropriyono. Hal tersebut jadi membuka ingatan keadaan keamanan di Arab Saudi, khususnya Mekkah dan Madinah pasca penyerbuan JSM.

JSM adalah kelompok muslin Wahabi radikal yang ikut dibawa dan dimanfaatkan oleh PPRII untuk menguasai Mekkah. Hal tersebut dilakukan agar ia dapatt memberikan pengamanan khusus pada kujungan Presiden dan keluarga.

Mendengar hal itu, Teddy Rusdy langsung diperintahkan untuk segera mempersiapkan dan membawa Tim Khusus pelapis dan membantu pengamanan Presiden Soeharto dan keluarganya selama menunaikan ibadah haji.

 

Sumber : Islami.co

Demi Keselamatan Presiden Soeharto, Teddy Rusdy Lakukan Pengamanan

Google.com

Mari kita mengenal sosok Teddy Rusdy dan kisahnya karena mungkin masih banyak orang yang belum mengenal beliau.

Indonesia adalah salah satu target utama Pengawal Revolusi Islam Iran (PPRII), PPRII masih terus berusaha untuk menularkan kobaran semangat revolusi Islam ke berbagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim.

Menanggapi hal tersebut, Jenderal L.B. Moerdani atau yang lebih akrab dipanggil dengan Pak Benny selaku Menteri Pertahanan dan keamanan RI 21 Maret 1988 – 17 Maret 1993 ini menugaskan Teddy Rusdy untuk menyiapkan dan menempatkan seorang Perwira Menengah dari direktoratnya di Keduataan Besar RI Teheran, Iran.

Teddy Rusdy menerima tugas utamanya untuk memantau jika ada keluarnya masuknya mahasiswa Indonesia ke Negara tersebut dengan mencatat nama dan data intelijen lainnya. Hal ini dilakukan demi keselamatan Presiden Soeharto yang sedang menunaikan ibadah haji pada 1991.

Ternyata, Teddy Rusdy merasa kesulitan pada situasi yang rumit ini, karena hubungan antara keluarga Presiden Soeharo dengan Teddy Rusdy sudah menjadi kaku. Dahulu sempat ternjadi kesalingcurigaan karena beberapa niat baik dari Teddy Rusdy untuk menjaga para putri Presiden atas perintah Pak Benny terjadi kesalahpahaman.

 

Sumber : Islami.co